Jakarta – Dokter Umum RS Sari Asih Sangiang, dr. Siti Nur R. Firda Fauziyah, mengatakan meningkatnya kasus “Super Flu” terjadi karena perubahan cuaca yang tidak menentu pada masa pancaroba sehingga mendukung virus bertahan lebih lama dan menyebar lebih cepat terutama di lingkungan padat penduduk.
“Faktor lainnya yang menyebabkan Super Flu ini meningkat karena virus influenza dan virus pernapasan lainnya seperti Respiratory Syncytial Virus (RSV), adenovirus dan parainfluenza terus mengalami perubahan mutasi,” ujarnya, dilansir dari laman Antaranews, Jumat (9/1/26).
Dalam kesempatannya, ia mengungkapkan bahwa “Super Flu” bukanlah istilah medis resmi, melainkan istilah populer yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan infeksi saluran pernapasan yang terasa lebih berat dan berkepanjangan dibandingkan flu pada umumnya.
Gejala yang dialami penyakit ini adalah demam tinggi yang naik-turun, nyeri badan hebat serta batuk yang tidak kunjung sembuh hingga berminggu-minggu. Kondisi ini pun kerap membuat masyarakat sulit membedakan antara flu biasa dengan COVID-19.
“Fenomena ini dapat terjadi akibat immunity gap atau celah imunitas. Selama masa pandemi COVID-19, penggunaan masker, pembatasan sosial, dan penurunan mobilitas membuat tubuh jarang terpapar virus influenza. Ketika aktivitas kembali normal, sistem imun belum sepenuhnya siap menghadapi paparan virus pernapasan yang kembali meningkat,” jelasnya.
Ia juga mengatakan hingga saat ini, tidak ditemukan bukti adanya virus influenza jenis baru yang lebih berbahaya, melainkan peningkatan kembali infeksi virus pernapasan yang sudah dikenal sebelumnya.
Berbeda dengan flu ringan yang umumnya membaik dalam tiga hingga lima hari, flu yang dirasakan lebih berat memiliki beberapa ciri diantaranya kelelahan ekstrem, sakit tenggorokan hebat, nyeri otot dan sendi menyeluruh, dan durasi penyakit lebih Panjang.
“Gejala-gejala tersebut sering kali menimbulkan kekhawatiran karena menyerupai infeksi COVID-19, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila keluhan memberat atau tidak kunjung membaik,” ujarnya.
Sementara itu langkah pencegahan yang dianjurkan yakni vaksinasi influenza tahunan, menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi seimbang.
Menggunakan masker saat diperlukan, menjaga kebersihan tangan, memenuhi kebutuhan cairan tubuh hingga minum air putih yang cukup untuk menjaga kelembapan saluran pernapasan.
Diakhir kesempatan, ia mengatakan jika sudah mengalami demam tinggi yang tidak turun lebih dari tiga hari, sesak napas atau nyeri dada, batuk berat yang mengganggu aktivitas maka disarankan segera melakukan pemeriksaan.
“Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti pneumonia, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit penyerta,” jelasnya.(rd/rd)
Leave a comment